Di Beit Lahia, Gaza utara, Wafaa Abu Hajir, seorang ibu dari tujuh anak, menatap panci berisi sayuran rebus. "Bagaimana kami bisa hidup tanpa roti?" tanyanya.
"Saya tidak bisa memberi tahu anak-anak saya apa yang akan kita makan besok," tuturnya. "Bantuan tidak datang. Perbatasan ditutup. Kami kelaparan."
Abdel Nasser al-Ajrami, kepala Asosiasi Toko Roti Gaza, memperingatkan "ancaman nyata bencana kelaparan."
"Penderitaan kemanusiaan di Gaza telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata al-Shawa, seraya menekankan perlunya membuka jalur perbatasan dan mengirimkan bantuan dengan segera.
Seorang anak perempuan melihat ke dalam sebuah toko roti yang tutup di Gaza City pada 1 April 2025. Blokade bantuan telah membuat 25 toko roti di Gaza terpaksa ditutup karena persediaan makanan makin menyusut, perintah evakuasi Israel kian meningkat, serta aksi pengeboman terus berlanjut, demikian disampaikan oleh badan-badan kemanusiaan PBB pada Selasa (1/4). (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Gaza pada 18 Maret, menewaskan lebih dari 1.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 2.000 lainnya, dalam sebuah serangan yang melanggar gencatan senjata yang rapuh serta kesepakatan pertukaran tahanan dengan Hamas.